'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Syiar
Home » Syiar » Ibadah » NORMALISASI HATI
NORMALISASI HATI
15 Juni 2017 22:54 WIB | dibaca 398
oleh: Nur Wijayanti (Sekretaris PDA)

Kediri – 15/06/2017 – Pernahkah kita mengalami hati yang galau, gundah gulana, hingga terasa menyesakkan dada? Saat kita mengalami permasalahan yang banyak, datangnya beruntun ataupun tiba-tiba atau bahkan datang silih berganti, seolah-olah tidak ada habisnya. Begitu banyaknya, hingga ‘mungkin’ beberapa orang menumpahkan kesalahan pada diri sendiri, orang lain bahkan menyalahkan takdir Allah SWT. Sungguh yang demikian ini sudah merupakan tindakan yang salah besar, perlu segera diambil langkah untuk menormalkan fungsi hati agar alur pemikiran menjadi lancar.

Ibaratkan hati ini layaknya sebuah sungai. Di mana, sungai yang harusnya sebagai aliran air, namun karena adanya sampah yang menumpuk di dalamnya sehingga mengakibatkan air tidak lagi dapat mengalir dalam sungai. Akhirnya air meluber ke jalanan dan terjadilah banjir yang memporakporandakan kondisi lingkungan. Demikian pula dengan hati kita, karena sikap dan perangai kita sebenarnya adalah cerminan dari hati kita. Bahkan Rasulullah SAW pernah bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal daging yang kalau dia baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah dia adalah hati.” Hati adalah pusat lingkungan alam diri manusia, ketika hati telah banyak tertimbun sampah, menumpuknya sedimen endapan butir-butir sampah, maka tak ayal lagi, ketika muncul banyak permasalahan akan meluber, memenuhi rongga dada sehingga tidak dapat lagi mengalirkan energi positif ke dalam pikiran. Bila telah demikian, normalisasi hati perlu segera dilakukan.

Normalisasi hati dilakukan melalui 3 tahap, yaitu bersihkan diri, perbaiki diri  dan jaga diri.

Bersihkan diri dengan jalan membuang semua sampah dan sedimen yang telah menumpuk dalam hati. Menurut Ibnul Qayyim, sampah dalam hati manusia dapat terbagi menjadi 10 jenis, yaitu :

  • Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih.
  • Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutaaba’ah kepada sunnah.
  • Harta yang tidak diinfaqkan di jalan Allah, tidak pula mampu dinikmati oleh para penimbunnya di dunia, dan tidak juga akan dihadirkan di hadapannya kelak di akhirat.
  • Hati yang kosong dari Mahabbatullaah (cinta pada Allah), melompong dari rasa kerinduan dan kesukaan pada-Nya.
  • Badan yang kosong dari ketaatan dan pengkhidmatan pada-Nya Allah SWT.
  • Rasa cinta pada Allah yang tidak terikat dengan keridhaan dan kepatuhan pada perintah-Nya.
  • Waktu yang kosong dari koreksi terhadap kealpaan diri, hampa dari amalan yang bermanfaat, dan sunyi dari ibadah yang bisa mendekatkan pada Illahi.
  • Pikiran yang berkelana, lalu singgah pada hal-hal yang tidak bermanfaat.
  • Pengkhidmatan kepada mereka yang tidak bisa mendekatkan dirimu pada Allah, dan tidak pula pengkhidmatan tersebut kembali padamu dalam wujud kemaslahatan dunia bagimu.
  • Rasa takut dan harapmu yang engkau peruntukkan bagi selain Allah, padahal Allah adalah Dzat yang memegang ubun-ubun mereka yang memiliki dan menguasai mereka secara mutlak.

Kesepuluh jenis sampah ini tidak sadar kita lakukan sedikit demi sedikit, sehingga menumpuklah menjadi endapan sedimen dalam hati, yang akan menghambat aliran energi positif dalam otak kita. Membersihkan hati dengan selalu membasahi bibir kita dengan dzikir dan membaca Al Quran, menanamkan rasa ikhlas dan syukur dalam segala kondisi , istiqomah dalam kebaikan dengan niat hanya karena Allah SWT, mengisi waktu dengan ibadah, dan berpasrah diri hanya kepada Allah SWT dengan tawakal.

Perbaiki diri melalui introspeksi diri, koreksi diri kita dengan bertafakur, merenung, menghitung kesalahan kemudian mengakui kesalahan dengan memohon maaf kepada sesama manusia dan memohon ampunan kepada Allah SWT dengan taubatan nasuha.

Jaga diri dengan menanamkan dalam hati kita bahwa dalam segala perilaku kita diawasi oleh Yang Maha Mengetahui, Allah SWT. Dengan pemikiran ini, maka kita akan selalu menjaga segala tindak tanduk kita dengan menjauhi segala larangan Allah dan selalu berupaya untuk melaksanakan perintah-Nya dengan khusyuk.

Bila hati telah kembali pada fungsinya dan berjalan normal, segala permasalahan yang menimpa kita akan dapat tertampung dan tidak akan meluber memenuhi rongga dada. Karena kapasitas hati manusia telah dirancang oleh Allah SWT agar dapat memuat segala ujian dan cobaan. Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan memberikan ujian di atas ambang batas kemampuan manusia, seperti janji Allah dalam Al Quran, surat Al Baqarah ayat 286. Isilah kapasitas hati untuk menampung ilmu dan petunjuk dari Al Quran, yang dapat menggelontorkan segala sampah yang ada dalam hati, menjadikan hati kita lapang menerima segala ujian dan cobaan. (nuwi)

Shared Post:
Arsip
Ibadah Terbaru
  • oleh: Nur Wijayanti (Sekretaris PDA) | 15 Juni 2017 22:54 WIB
Berita Terbaru