'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
MENGUPAS TUNTAS SEJARAH GUNA PENEGUHAN IDEOLOGI MUHAMMADIYAH DALAM BAITUL ARQAM PIMPINAN 'AISYIYAH KABUPATEN KEDIRI
27 Desember 2016 17:46 WIB | dibaca 1864

Kediri – 27/12/2016 – Memasuki materi pertama di hari pertama Baitul Arqam Pimpinan 'Aisyiyah Kabupaten Kediri pada tanggal 20 Desember 2016 tentang Peneguhan Ideologi dan Muqoddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah/Aisyiyah dengan narasumber Ibu Dra. Hj. Rukmini dari PWA Jawa Timur dan dimoderatori oleh Ibu Erie Nurrokhim, S.P.,M.Kes. Sebelum dimulai pembahasan materi terlebih dahulu dibacakan biodata narasumber.

Pembahasan diawali dengan pengenalan dasar materi yang disampaikan dalam tanya jawab interaktif antara pemateri dan peserta pelatihan. Peserta lebih banyak diberikan pertanyaan tentang pengertian ideologi, Baitul Arqam hingga arti lambang Muhammadiyah. Beragam jawaban yang diberikan oleh peserta yang rata-rata memang baru mengenal persyarikatan Muhammadiyah, sehingga pemateri harus meluruskan pemahaman. Untuk mengantarkan peserta dalam pemahaman ideologi Muhammadiyah yang benar, maka lebih dahulu diberikan pengertian tentang Baitul Arqam sebagai suatu bentuk pembinaan yang berorientasi pada pembinaan ideologi keislaman dan kepemimpinan. Hal ini ditilik dari sejarah Baitul Arqam yang diambil dari salah satu nama sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Arqam bin Arqam, yang pada waktu itu rumahnya dijadikan base camp dakwah Rasulullah SAW. Dari rumah Arqam inilah, Rasulullah SAW membina para shahabatnya di awal masa perjuangannya.

Guna pendalaman, juga diperkenalkan tentang arti lambang Muhammadiyah secara global. Lambang Muhammadiyah yang digambarkan dengan matahari sebagai salah satu ciptaan Allah SWT yang bertugas menyinari bumi selama 24 jam, hal ini berbeda dengan bulan yang hanya bersinar terang pada tanggal-tanggal tertentu saja. Artinya bahwa sebagai kader Muhammadiyah kita harus selalu siap 24 jam untuk melakukan pencerahan kepada masyarakat dalam konteks keislaman yang kokoh berintikan nilai-nilai syahadat . Mengapa sinar yang memancar sebanyak 12? Dua belas sinar matahari yang memancar ke seluruh penjuru mengibaratkan tekad dan semangat pantang menyerah dari warga Muhammadiyah dalam memperjuangkan Islam di tengah – tengah masyarakat Indonesia seperti kaum Hawary, yaitu sahabat Nabi Isa AS. yang jumlahnya ada dua belas orang, yang diabadikan dalam Al- Quran, yaitu surat as – Shaf ayat 14 : “ Wahai sekalian orang yang beriman, jadikanlah kalian penolong – penolong (agama) Allah, sebagaimana ucapan Isa putra Maryam kepada kaum Hawary: Siapa yang bersedia menolongku (semata – mata untuk menegakkan agama Allah), lalu segolongan Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir : maka kami berikan kekuatan kepada orang – orang yang beriman terhadap musuh – musuh mereka, maka jadilah mereka orang – orang yang menang “.

Di tengah lambang tersebut terdapat tulisan Muhammadiyah, ini diartikan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid, yang bersumber pada Al Quran dan As Sunnah, berasas Islam, dan bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sedangkan organisasi ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, yang penamaannya disandarkan pada Aisyah, isteri Rasulullah SAW yang selalu membantunya dalam berdakwah, tidak pernah mengenal jalan buntu dalam menghadapi segala permasalahan, selalu berinovasi, cerdas. Diharapkan dengan menisbatkan pada Aisyah maka anggota ‘Aisyiyah dapat menjadi kader ‘Aisyiyah sejati yang memiliki harkat, bergerak dan mampu menggerakan organisasi pada gerakan Islam yang berkemajuan, dengan ciri-ciri :

  1. Berakidah dan beribadah yang benar, jauh dari kesyirikan, selalu berpegang teguh pada ajaran Al Quran dan As Sunnah.
  2. Bersinerginya antara iman, ilmu dan amal, artinya bahwa keimanannya dapat mendasari keilmuannya dan diterapkan dalam beramal kebaikan untuk sesama manusia.
  3. Berjiwa visioner, artinya selalu berpandangan jauh ke depan untuk memikirkan masa depan.

Setelah mengetahui sejarah, maka diberikan pengertian ideologi sebagai sebuah sistem paham yang mengandung konsep cara berpikir, cita-cita dan strategi perjuangan mengenai kehidupan.  Juga diberikan pengertian tentang arti sebuah gerakan yaitu sebuah aksi terorganisasi yang mengandung aspek-aspek keyakinan, pengetahuan, kelembagaan, dan pelaku untuk mencapai tujuan tertentu (menolak atau melakukan perubahan). Dengan berbekal pengetahuan tentang rentetan sejarah Muhammadiyah dan pengertian tentang ideologi dan gerakan tersebut maka dapat dipahami bahwa ideologi Muhammadiyah bukan sekedar seperangkat paham atau pemikiran belaka, tetapi juga teori dan strategi perjuangan untuk mewujudkan paham tersebut dalam kehidupan. Karena itu yang dimaksud dengan Ideologi Muhmmadiyah ialah sistem keyakinan, cita-cita, dan perjuangan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Di dalamnya terkandung 3 hal pokok sebagai berikut :

  1. Paham Islam atau paham agama dalam Muhammadiyah; memiliki akar pada pemikiran Kyai Haji Ahmad Dahlan tentang Islam yang diyakini adalah agama Allah SWT yang  diwahyukan  kepada  Rasul-Nya,  sejak  Nabi Adam,  Nuh,  Ibrahim,  Musa,  Isa  dan  seterusnya  sampai kepada Nabi penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan  menjamin  kesejahteraan  hidup  materil  dan  spritual, dunia dan  akhirat.
  2. Hakikat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam; melalui gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat Islam yang berkemajuan.
  3. Misi, fungsi, dan strategi perjuangan Muhammadiyah; untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, menjadikan negara yang adil dan makmur dan diridhai Allah SWT, “Baldatun Tayyibatun Wa Rabbun Ghafur”. Untuk mewujudkan maksud dan tujuan serta misinya, Muhammadiyah melakukan usaha –usaha yang bersifat pokok, dan kemudian diwujudkan dalam amal usaha, program, dan kegiatan.

Dengan rumusan ideologi Muhammadiyah dapat dikatakan bahwaideologi dalam Muhammadiyah menjadi penting, sebab gerakan Muhammadiyah tidak hanya bersifat teknis administratif. Ideologi tersebut memiliki beberapa fungsi, yaitu :

  1. Menjelaskan dan menanamkan pandangan dunia (world-view) bahwa “Islam Agamaku, Muhammadiyah Gerakanku”
  2. Membangun komitmen idealisme untuk menjalankan misi dan cita-cita gerakan
  3. Mengikat solidaritas kolektif yang kokoh
  4. Menyusun dan melaksanakan garis perjuangan dan strategi perjuangan
  5. Memobilisasi anggota untuk mencapai tujuan
  6. Membela/menjaga keutuhan/eksistensi organisasi sesuai prinsip gerakan

Perkembangan pemikiran yang bersifat ideologis dan tuntutan akan pentingnya ideologi dalam Muhammadiyah tumbuh dalam sejarah perjalanannya sejak kelahiran Muhammadiyah dengan kronologi sebagai berikut :

  • Era Kyai H. Ahmad Dahlan yang diistilahkan dengan lahirnya ideologi reformis seiring dengan lahirnya lembaga Tarjih tahun 1927
  • Era kepemimpinan Mas Mansur (1937-1942) sebagai era dengan dinamika kehidupan semakin kompleks yang membawa konsekuensi pada membangun ”sistem paham perjuangan” dengan konsep “Duabelas Langkah Muhammadiyah” atau “Langkah Muhammadiyah Tahun 1938-1942”
  • Era Ki Bagus Hadikusuma  dengan pemikiran ideologis yang lebih kuat lagi  dengan digagasnya konsep ”Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah” yang disahkan dalam Sidang Tanwir tahun 1961. Pemikiran yang terkandung dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah terdiri atas enam hal yang bersifat fundamental/mendasar, yakni : (1) Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah, dan taat kepada Allah; (2)Hidup manusia bermasyarakat; (3) Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan keyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia akhirat; (4) Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban sebagai ibadah kepada Allah dan ihsan kepada kemanusiaan; (5) ‘Ittiba kepada langkah perjuangan Nabi Muhammad s.a.w.; (6) Melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi.

Pada perkembangan selanjutnya, pemikiran ideologis lebih bersifat peneguhan ideologi Muhammadiyah dengan dirumuskannya ”Kepribadian Muhammadiyah” tahun 1962 yang intinya mengandung hakikat dan sifat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, sekaligus sebagai ikhtiar pembingkaian warga Muhammadiyah dari kontaminasi politik yang berpengaruh terhadap corak dakwah Muhammadiyah saat itudan ingin kembali meneguhkan jatidirinya sebagai gerakan dakwah Islam dan tidak terpengaruh dengan cara-cara partai politik.

Perkembangan yang lebih monumental ialah kelahiran rezim politik Orde Baru, tepatnya dalam momentum Muktamar ke-37 tahun 1968 di Yogyakartadengan melahirkan ”Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah” dan “Khittah Perjuangan Muhammadiyah”, di samping konsep lainnya seperti Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah.

Pada era reformasi Muhammadiyah kembali melakukan peneguhan ideologistepatnya pada tahun 2000 saat Muktamar ke-44 di Jakarta dirumuskan konsep “Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah”, yang berisi seperangkat nilai dan norma Islami yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah untuk menjadi pola bagi tingkah laku warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Sedangkan pada muktamar ke-45 tahun 2005 di Malang, Muhammadiyah mengeluarkan konsep pandangan dunia yang cukup penting yakni “Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad” “Zhawãhir al-Afkãr al-Muhammadiyyah ’Abra Qarn min al-Zamãn”, sebagai manifesto Muhammadiyah dalam menghadapi dunia abad 21 ketika usianya memasuki 100 tahun.

Dengan memberikan penguatan/peneguhan ideologi Muhammadiyah dalam setiap pengkaderan bertujuan agar dapat dipahami dan diaktualisasikan dalam pengembangan organisasi sehingga dapat menjadi bingkai dan komitmen utama bagi seluruh anggota, juga dapat digunakan sebagai benteng organisasi dari berbagai paham dan kepentingan luar yang tidak sejalan dengan prinsip dan  misi Muhammadiyah.

Pembahasan materi ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan dilanjutkan dengan evaluasi langsung dari pemateri kepada peserta dengan melontarkan beberapa pertanyaan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana penangkapan pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan. Dan sebelum mengakhiri pembahasannya, Bu Hj. Rukmini meminta kepada segenap panitia dan PDA juga peserta untuk membaca lebih lanjut tentang Faham Agama menurut Muhammadiyah dan Masailul Khamsah, karena waktunya tidak memungkinkan untuk dilakukan saat ini, maka PR bagi semuanya untuk mengadakan kajian terhadap dua materi tersebut di waktu yang lain. (nuwi)

Shared Post: