'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
COMMUNITY TB-HIV CARE ‘AISYIYAH KAB KEDIRI ADAKAN SOSIALISASI TB
16 November 2016 14:43 WIB | dibaca 2461

Kediri – 16/11/2016 - Community TB Care ‘Aisyiyah merupakan program penanggulangan Tuberkulosis (TB) berbasis masyarakat yang merupakan bagian dari program Majelis Kesehatan ‘Aisyiyah dibawah pembinaan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Melalui Program Penanggulangan TB ini ‘Aisyiyah berupaya berperan serta dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dan pencapaian target Millineum Development Goals (MDGs) no 6 yakni penurunan angka penyebaran penyakit menular. Sebagai amanat Muktamar dan Tanwir ‘Aisyiyah, upaya penanggulangan TB ini dilakukan baik di daerah yang mendapatkan dukungan dari donor maupun secara mandiri. ‘Aisyiyah Daerah Kabupaten Kediri merupakan salah satu daerah yang dipercaya menjadi Sub-Sub Recipient (SSR) sejak tahun 2013 yang memiliki tugas meningkatkan peran serta masyarakat dalam  menyuluh, menemukan  suspect, mendampingi pengobatan pasien TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse chemotheraphy = Pengobatan Jangka Pendek dengan Pengawasan Langsung), mengadakan pelatihan kepada masyarakat seperti  pelatihan  kader TB,  tokoh  agama,  tenaga  kesehatan  dan pemerintah  dan  sebagainya.

 

Sosialisasi TB dilakukan SSR TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kabupaten Kediri yang kesekian kalinya berlangsung pada tanggal 30 Oktober 2016 bertempat di Gedung SD As Salam Gurah dengan mengundang anggota 'Aisyiyah dari 7 cabang yang menjadi daerah program TB ‘Aisyiyah Kab Kediri yaitu Kecamatan Gurah, Badas, Kandat, Plosoklaten, Pare, Kunjang dan Kepung dengan total peserta yang hadir sebanyak 28 orang. Tampak hadir dalam kegiatan ini adalah Tim TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kabupaten Kediri diantaranya ada Koordinator SSR, Anik Ekowati, bersama 2 orang Staf Administrasi, sedangkan dari PDA Kabupaten Kediri telah hadir Ketua PDA, Ibu Hj. Kristin Muslimah, Koordinator Majelis Kesehatan, Ibu Erry Nurrokhim dan beberapa orang wakil ketua. Adapun pemateri diambilkan dari RS Siti Khodijah, Gurah yakni dr. Adip Kusworo, dan pemateri organisasi dari ‘Aisyiyah adalah Ibu Hj. Kristin Muslimah, Ketua PDA Kabupaten Kediri, dan pemateri dari Tim TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kab Kediri, Anik Ekowati.

Dalam paparannya, dr. Adip mengupas mulai dari masalah dasar pengertian penyakit TB hingga munculnya TB MDR dan koinfeksi TB-HIV. Pengertian dasar dari penyakit TB adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru (90%) dibandingkan bagian lain tubuh manusia. Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit menular, bukan penyakit keturunan, bukan penyakit karena guna-guna dan bukan juga penyakit karena terkena racun. Penderita yang terserang basil tersebut biasanya akan mengalami demam tapi tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul. Gejala lain, penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak (malaise), dan lemah. Untuk memastikan seseorang terkena TB atau tidak, tim medis melakukan diagnosis dengan mengadakan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung (BTA) dan gambaran radio logis (foto rontgen). Secara detail uraian dari nara sumber dr. Adip Kusworo adalah sebagai berikut :

  1. Materi Penyuluhan TBC Pendahuluan Klik di sini
  2. Materi Penyuluhan TBC Paru dan Ekstra Paru  Klik di sini
  3. Materi TB-DM Klik di sini
  4. Materi TB-HIV Klik di sini

Dalam sesion tanya jawab, muncul pertanyaan dari peserta tentang faktor utama penyebab munculnya TB-MDR dan penyebarannya. Dijelaskan oleh dr. Adip, bahwa belum bisa diketahui faktor utamanya, namun kebanyakan adalah karena banyak penderita tidak melanjutkan pengobatan sampai benar-benar dinyatakan sembuh oleh dokter. Adakalanya, setelah dua bulan menjalani pengobatan, kondisi pasien sudah ‘seperti’ sembuh, karena tidak lagi merasakan gejala TB, sehingga merasa percaya diri untuk menghentikan pengobatan. Padahal, suatu saat TB bisa kambuh, dan menjadikan bakteri M tuberculosis dapat kebal pada pengobatan biasa. Selain itu, kuman bisa menyebar ke orang-orang di sekitar sehingga berpotensi menambah jumlah penderita.

Menimpali uraian dr. Adip tersebut, Ibu Hj. Kristin sebagai narasumber dari ‘Aisyiyah mengungkapkan bagaimana peran strategis dari ‘Aisyiyah dalam upaya penanggulangan penyakit ini, mulai dari melakukan sosialisasi kepada masyarakat, tokoh agama dan tokoh masyarakat hingga mengadakan pelatihan bagi kader, PMO, TOGA dan TOMA. Mengapa ‘Aisyiyah perlu melakukan ini ? Hal ini dikarenakan penanggulangan TB sesuai dengan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar Muhammadiyah-’Aisyiyah dalam bidang kesehatan. Sesuai dengan Firman Allah dalam Surah Al-Imran :

  

Artinya : “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S Ali Imran (3) : 104)

Selain itu, karena efek yang ditimbulkan dari penyakit ini sangatlah besar, yang dapat mengancam sumberdaya manusia di Indonesia dan menyebabkan kematian pada sekitar 250 orang per hari atau sekitar 236.029 kematian akibat TB pertahunnya yang menyebabkan hilangnya satu generasi, karena TB banyak menyerang usia produktif 15 – 49 tahun. Bahkan dari hasil survei terbaru, jumlah kasus baru tuberkulosis atau TB di Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta kasus per tahun atau naik dua kali lipat dari estimasi sebelumnya sehingga menyebabkan posisi Indonesia pun melonjak ke negara dengan kasus TB terbanyak kedua setelah India. Oleh karenanya, diharapkan dari kegiatan ini anggota ‘Aisyiyah di segala jenjang dapat  menjadi penyuluh  dan motivator di masyarakat, menyebarluaskan informasi tentang bahaya TB, pencegahan dan pengobatannya sekaligus menemukan suspek (orang yang diduga sakit TB) dan bahkan bisa juga menjadi PMO (Pengawas  Menelan  Obat) untuk  memastikan pasien TB berobat teratur sampai sembuh.

Materi terakhir dari acara ini disampaikan oleh Tim TB-HIV Care ‘Aisyiyah Kabupaten Kediri, Anik Ekowati yang lebih fokus penyampaian tentang tindakan yang harus diambil setelah menemukan orang yang diduga terkena TB. Apabila ditemukan orang dengan gejala batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih, batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan, segera sarankan untuk berobat ke UPK (Unit Pelayanan Kesehatan = Klinik, Puskesmas danRumah Sakit) atau beritahukan kepada kader TB terdekat. Sampai saat ini kader TB Care ‘Aisyiyah Kabupaten Kediri sebanyak 71 orang yang tersebar di 7 kecamatan (dalam daftar ini Daftar Kader TB Hal. 1 dan Daftar Kader TB Hal. 2). Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut di atas, dianggap sebagai suspek pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Pemeriksaan dimaksudkan untuk memastikan diagnosa, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB parudi bawah ini. (nuwi)

 

Shared Post: